Dewi Soimah (Alumni Twenty Second Kampung Inggris)

Cerita Alumni Twenty Second Kampung Inggris

Salam…

Perkenalkan, saya Dewi Soimah dari Indramayu. Saya mau cerita sedikit nih tentang pengalamku belajar Bahasa Inggris di Kampung Inggris (Pare) dan lebih tetapnya di Twenty Second Kampung Inggris. Alasan saya kenapa belajar Bahasa Inggris, karena saya penasaran dari SD sampai Kuliah nilai Bahasa Inggrisku selalu pas-pas’an. Tapi itu ngga jadi masalah juga sih, toh saya sudah berusaha belajar dan nilaiku setidaknya lulus.

Masalah datang saat tugas akhir kuliah, skripsi saya membahas tentang Islam Singapura, so referensinya juga kebanyakan berbahasa Inggris, karena bahasa Inggris saya terbatas, maka skripsi saya pun terbengkalai sampai hampir dua semester, karena tuntutan waktu sayapun harus segera menyelesaikan skripsi saya bagaimanapun caranya, akhirnya saya minta bantuan teman saya. Dari situ saya sadar bahwa saya banyak menyusahkan orang, karena keterbatasan bahasa, saya merasa lemah karena sering meminta bantuan. Dari situ saya bertekad, “Oke! Saya harus bisa ngomong, bisa baca dan bisa nulis bahasa Inggris”.

Akhirnya skripsiku selesai juga, dalam jangka waktu satu minggu saya sibuk mengurus pendaftaran sidang skripsi dan mencari lembaga kursus yang mau menerima orang sepertiku yang belum bisa apa-apa. Tapi pencarianku membuatku bingung karena terlalu banyak lembaga kursus Bahasa Inggris. Dalam kebingunanku, aku teringat salah satu teman SMA-ku yang dulu pernah belajar di Kampung Inggris Pare. Sayapun langsung menghubunginya untuk meminta saran lembaga kursus yang mau menerima siswa dari dasar. Dan teman saya menyarankan untuk kursus di Twenty Second, setelah mendapatkan sedikit info dari teman, saya langsung menghubungi pihak lembaga dan mendapatkan respon yang baik, akhirnya saya tertarik dan tanpa pikir panjang saya piilih Twenty Second sebagai media saya belajar bahasa Inggris.

Setelah daftar saya langsung siap-siap menyiapkan diri untuk pergi ke Pare, sebelum keberangkatanpun saya bingung naik apa menuju Pare, karena sebelumnya saya belum pernah sama sekali ke Pare. Dan ternyata pihak lembagapun menyediakan jasa penjemputan, akhirnya saya dijemput dari Stasiun Kediri.

Sesampainya di camp kursus saya merasa seperti di rumah sendiri, karena tempat campnya memang berbentuk rumah tidak seperti asrama. Selama tinggal di camp saya merasa keseharian saya berubah lebih baik dan saya selalu bangun pagi. Kegitan belajar mengajarnyapun menyenangkan, kita bebas menjadi diri kita sendiri. Dan yang paling saya suka yaitu tutornya atau pengajarnya sabar-sabar and friendly. Selama di Twenty Second saya mendapatkan banyak ilmu pengetahuan, pengalaman dan teman baru dari berbagai daerah.

Share This:

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedin



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *